SEMANGAT SUMPAH PEMUDA BERPACU DENGAN GLOBAL REVERSE INNOVATION

Posted on Posted in Article

Kontan, 28 Oktober 2009. Inisiatif luar biasa dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) saat 81 tahun yang lalu melahirkan Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak kokoh bagi terwujudnya persatuan Indonesia.
Aktualisasi semangat Sumpah Pemuda saat ini menjadi penting, lantaran bangsa Indonesia membutuhkan inisiatif besar untuk menghadapi persaingan global yang semakin sengit. Persaingan ideologi telah berganti menjadi persaingan inovasi antar bangsa. Apalagi planet Bumi kondisinya semakin crowded sehingga perlu inisiatif yang mampu melahirkan berbagai solusi cerdas. Melihat kondisi global seperti itu, “Indonesian Incorporated” sekarang ini membutuhkan tokoh-tokoh zeitgeist. Yakni tokoh yang benar-benar mampu mengendalikan semangat jaman dengan inisiatif besar lewat berbagai inovasi untuk menuju negeri harapan. Tokoh-tokoh itu harus mampu menciptakan economic value sebesar-besarnya di negeri yang kaya dengan sumber daya.Istilah Zeitgeist berasal dari bahasa Jerman yang secara harfiah berarti jiwa dari suatu waktu (time spirit). Istilah tersebut juga sering kita jumpai dalam ucapan dan tulisan para perintis dan pendiri Republik Indonesia . Gelora jiwa revolusi kemerdekaan pada prinsipnya dipompa oleh pemimpin yang piawai membaca dan menganalisa semangat jaman untuk menyusun agenda aksi serta melakukan inisiatif perubahan secara sistemik. Dalam konteks globalisasi gelombang ketiga sekarang ini makna zeitgeist mencuat kembali. Sampai-sampai Google memberi makna tersendiri sebagai “the general intellectual, moral, and cultural climate of an era” (intelektual, moral dan kultur umum pada suatu era). Lebih dari itu Google juga menjadikan Zeitgeist sebagai perangkat yang mampu menyimpulkan istilah apa yang populer dalam pencarian. Tidak berlebihan jika tata ekonomi dunia baru sekarang ini diwarnai dengan digitalpreneur yakni kewirausahaan dengan memanfaatkan teknologi digital. Dalam konteks diatas Indonesia membutuhkan platform besar “For Brighter Digitalpreneur” untuk mencetak digital inventor yang lebih banyak lagi.

Jika kita cermati semangat jaman, dalam dekade terakhir ini ada kerisauan yang luar biasa dari negara-negara yang lebih dahulu mengalami kemajuan berkat industrialisasi yang liberal dan kapitalistik. Seperti yang tergambar dalam sebuah laporan/review dari Harvard Business Review (HBR) dengan judul “ How GE Is Disrupting Itself ”. Laporan HBR yang selama ini paling banyak menjadi referensi dunia, pada prinsipnya mencerminkan kerisauan dari perusahaan multinasional dan otomatis juga menjadi kekawatiran penguasa negara maju. Mereka risau karena asumsinya terhadap negara ketiga yang berpredikat emerging force yang kaya sumber daya menjadi turn around alias dijungkir-balikan. Ternyata sistem inovasi dan produksi di negara imerging seperti India, RRC dan bisa jadi Indonesia segera menyusul, telah menemukan lompatan dramatis untuk mengejar bahkan siap melampaui negara maju. Ada dua asumsi salah yang hingga kini menikam perusahaan multinasional dan penguasa negara kapitalis. Yakni; asumsi pertama menyatakan kondisi ekonomi negara emerging akan berevolusi seperti yang dilakukan negara maju. Namun, ternyata negara imerging tidak mengikuti pola dan jalur yang sama, bahkan mampu melompat melampaui negara maju karena mereka giat mengadopsi inovasi terobosan. Asumsi kedua, produk yang dikembangkan negara imerging akan mengalami kesulitan jika dijual di negara maju karena tidak kompetitif. Namun, kenyataannya justru produk-produk itu berhasil menciptakan pangsa pasar yang baru di negara maju. Bahkan, secara dramatis mampu mengurangi tingkat harga dan menjadi pionir untuk aplikasi baru.

Paradigma yang tergambar dalam laporan HBR diatas sudah seharusnya menyemangati bangsa Indonesia untuk melakukan lompatan-lompatan dramatis. Salah satu aspek penting agar bisa melompat adalah mencetak digitalpreneur alias para wiraswasta bidang digital yang akan melahirkan berbagai inovasi yang bisa menjadi leverage daya saing bangsa. Posisi digitalpreneur dalam persaingan global sangat penting. Sayangnya, masih sedikit perusahaan di negeri ini yang menyadari akan hal itu. Salah satu perusahaan yang memiliki program relevan adalah PT Telkom melalui program “Indigo Fellowship”, yang pada 2009 membutuhkan anggaran Rp 15 miliar berasal dari anggaran Corporate Social Responsibility (CSR). Langkah yang dilakukan oleh PT Telkom itu sangat strategis, namun jika dibandingkan dengan langkah General Electric memang seperti bumi dan langit. Pada pertengahan 2009 saja General Electric mengumumkan pendanaan sebesar 3 Milyar USD untuk program Global Reverse Innovation. Program itu bertujuan menciptakan sekitar 100 peralatan kesehatan dengan harga lebih rendah, akses yang lebih luas dan peningkatan kualitas. Salah satu inovasi alat kesehatan diatas adalah USG portable berbasis komputer pribadi dengan harga murah, sekitar 15 ribu dollar Amerika. Produk inovatif tersebut sangat luar biasa, bukan hanya karena ukurannya yang kecil dan harganya yang rendah, namun karena dikembangkan untuk sasaran masyarakat India , RRC dan Indonesia .

Perusahaan multinasional di negara-negara maju sedang bekerja keras untuk melakukan “invers process” yakni proses kebalikan yang merupakan koreksi dari program atau model glokalisasi ( glocalization ). Proses kebalikan itu disebut “global reverse innovation”. Strategi inovatif itu berpacu dengan negara-negara imerging, sebelum mereka mengembangkan produk yang serupa dan bisa “mengganggu” negara-negara maju. Sebagai catatan, model glokalisasi merupakan pendekatan yang dilakukan oleh banyak perusahaan multinasional dengan cara mengembangkan produk inovatif di negara asal, dan kemudian mendistribusikannya ke seluruh dunia dengan adaptasi dan modifikasi lokal.

Semangat Sumpah Pemuda yang menyala 81 tahun yang lalu pada saat ini harus diimplementasikan sesuai dengan tantangan jaman. Tantangan yang paling relevan adalah mencetak tokoh-tokoh zeitgeist sebanyak-banyaknya. Tokoh zeitgeist merupakan pemimpin yang efektif, dan mampu melahirkan inisiatif besar yang dapat membantu perjalanan bangsa menuju negeri harapan. Tokoh Zeitgeist untuk Indonesian Incorporated harus mampu mengartikulasikan ikon semangat revolusi kemerdekaan RI. Yang mana pada masa itu ikon tersebut berbentuk kepalan lima jari tangan menjulang keatas. Ikon bergambar kepalan tangan itu berbentuk poster bertuliskan “ Ayo, Bung ! ” hasil kolaborasi empat orang yaitu Bung Karno sebagai pemberi ide, pelukis Affandi sebagai penerjemah ide di kanvas, penyair Chairil Anwar sebagai pemberi teks, dan pelukis Sudjojono sebagai penata letak. Siapapun rakyat Indonesia pada waktu itu akan terpompa motifasinya melihat poster itu. Ikon kepalan tangan menjulang keatas itu hingga sekarang ini konteksnya masih sangat relevan untuk berpacu dengan global reverse innovation.